Dharma, Identitas, dan Salah Paham di Indonesia
Dony Sinanda Putra · 290 hlm. · 39 bab + 3 lampiran
Di Indonesia, kolom agama di KTP bukan sekadar data administrasi. Ia adalah panggung tempat identitas dinegosiasikan, dihakimi, dan sering harus diterjemahkan ke dalam bahasa mayoritas agar dianggap wajar.
Dari posisi yang tidak sepenuhnya di "dalam" maupun di "luar" inilah, buku ini mencoba menjawab pertanyaan yang jarang diajukan: mengapa sujud kepada guru dianggap pengkultusan, mengapa meditasi dicurigai sebagai klenik, dan mengapa keterbukaan Dharma justru sering dibaca sebagai kelemahan?
Jawabannya terletak pada kamus yang salah. Publik Indonesia telah lama dibentuk oleh satu template tentang seperti apa "agama" itu seharusnya: satu Tuhan personal, satu kitab suci tunggal, dan satu sistem iman yang tegas.
Namun Buddhist KTP bukan sekadar buku tentang Buddhisme. Ia adalah potret psikologi sosial tentang bagaimana sebuah minoritas bertahan hidup — dari Tridharma hingga Viparyaya, dari ironi amnesia kultural hingga ketangguhan lewat Padmasambhava.
Pada akhirnya, buku ini menawarkan lebih dari sekadar klarifikasi. Ia mengajak pembaca untuk melatih Samasthiti: keseimbangan batin di tengah perbedaan.
Buddhist KTP bukan buku dakwah balik, bukan buku akademik yang dingin, dan bukan pula buku Buddhisme generik yang bisa dilepas dari konteks Indonesia. — dari Pengantar Penulis
"Buddhist KTP is more than a book about Buddhism. It is a portrait of social psychology, showing how a minority manages to survive."
In Indonesia, the religion column on an identity card is not merely administrative data. It is a stage upon which identity is negotiated, judged, and often translated into the language of the majority just to be considered legitimate. Through rich etymological tracing, the reclamation of tainted symbols, and an analysis of bodily practice, this book clears the semantic fog that has obscured the true face of Dharma.
Read in English →Bab 0–3. Identitas administratif "Buddhist KTP." Masalahnya semantis, bukan teologis.
Bab 4–17. Perlindungan, rasa hormat, etika, napas, bahasa, keseimbangan.
Bab 18–22. Bhinneka Tunggal Ika bukan klise — melainkan tameng filosofis.
Bab 23–29. Makanan, rasa takut, tubuh, identitas hibrida, amnesia kultural.
Bab 30–35. Ritme alam, angka, simbol. Puncak meditatif: Dhyāna.
Bab 36–38. Mangkuk pengemis, kejernihan yang hidup, Tonglen. Berakhir dengan berkat.