Dharma, Identitas, dan Salah Paham di Indonesia
Buku ini bukan tentang agama. Buku ini tentang cara membaca agama — dan mengapa kita sering membacanya dengan kamus yang salah.
Di Indonesia, kolom agama di KTP bukan sekadar data administrasi. Ia adalah panggung tempat identitas dinegosiasikan, dihakimi, dan sering harus diterjemahkan ke dalam bahasa mayoritas agar dianggap wajar.
Dari posisi yang tidak sepenuhnya di "dalam" maupun di "luar" inilah, buku ini mencoba menjawab pertanyaan yang jarang diajukan: mengapa sujud kepada guru dianggap pengkultusan, mengapa meditasi dicurigai sebagai klenik, dan mengapa keterbukaan Dharma justru sering dibaca sebagai kelemahan?
Jawabannya terletak pada kamus yang salah. Publik Indonesia telah lama dibentuk oleh satu template tentang seperti apa "agama" itu seharusnya: satu Tuhan personal, satu kitab suci tunggal, satu sistem iman yang tegas.
Buddhist KTP bukan sekadar buku tentang Buddhisme. Ia adalah potret psikologi sosial tentang bagaimana sebuah minoritas bertahan hidup — dari Tridharma hingga Viparyaya, dari ironi amnesia kultural hingga ketangguhan lewat Padmasambhava.
Aliran kognitif buku ini adalah spiral ekspansi — bukan daftar topik, melainkan satu gerakan tunggal dari luka salah-baca menuju welas asih kosmis.
Identitas administratif "Buddhist KTP." Masalahnya semantis — āgama telah menyempit. Negara memaksa label "Tuhan" pada tradisi yang non-teistik.
Perlindungan, rasa hormat, etika, napas, bahasa, keseimbangan. Fondasi internal yang memungkinkan hidup sebagai minoritas tanpa kehilangan pusat.
Bhinneka Tunggal Ika bukan klise — melainkan tameng filosofis. Arus bawah yang berbahaya: erosi diri yang senyap.
Makanan, rasa takut, tubuh, identitas hibrida. Terobosan: Viparyaya. Resolusi: Padmasambhava sebagai model menyerap perbedaan tanpa menghapus diri.
Ritme bulan dan matahari, lima lapisan diri. Angka dan simbol dikembalikan sebagai teknologi fungsional. Puncak meditatif: Dhyāna.
Bhikṣā, Tonglen, Atīśa Dīpaṃkara. Silsilah welas asih dari Suvarṇadvīpa ke Tibet. Ditutup dengan doa — bukan kemenangan.
Sabbe sattā bhavantu sukhitattā.
Halaman Lebih Dalam berisi arsitektur lengkap buku ini — termasuk semua 39 judul bab, analisis mendalam per fase, dan kaitannya dengan program riset psikologi Beyond Tolerance.
Lebih Dalam →