Nonfiction · Psikologi Agama · Indonesia

Buddhist KTP

Dharma, Identitas, dan Salah Paham di Indonesia

Buku ini bukan tentang agama. Buku ini tentang cara membaca agama — dan mengapa kita sering membacanya dengan kamus yang salah.

290
Halaman
39
Bab + 3 Lampiran
2026
Mencari Penerbit
Tentang Buku

Bukan tentang agama.
Tentang cara membaca agama.

Di Indonesia, kolom agama di KTP bukan sekadar data administrasi. Ia adalah panggung tempat identitas dinegosiasikan, dihakimi, dan sering harus diterjemahkan ke dalam bahasa mayoritas agar dianggap wajar.

Dari posisi yang tidak sepenuhnya di "dalam" maupun di "luar" inilah, buku ini mencoba menjawab pertanyaan yang jarang diajukan: mengapa sujud kepada guru dianggap pengkultusan, mengapa meditasi dicurigai sebagai klenik, dan mengapa keterbukaan Dharma justru sering dibaca sebagai kelemahan?

Jawabannya terletak pada kamus yang salah. Publik Indonesia telah lama dibentuk oleh satu template tentang seperti apa "agama" itu seharusnya: satu Tuhan personal, satu kitab suci tunggal, satu sistem iman yang tegas.

Buddhist KTP bukan sekadar buku tentang Buddhisme. Ia adalah potret psikologi sosial tentang bagaimana sebuah minoritas bertahan hidup — dari Tridharma hingga Viparyaya, dari ironi amnesia kultural hingga ketangguhan lewat Padmasambhava.

Buddhist KTP bukan buku dakwah balik, bukan buku akademik yang dingin, dan bukan pula buku Buddhisme generik yang bisa dilepas dari konteks Indonesia.
— dari Pengantar Penulis
Perjalanan Buku

Enam fase — dari KTP ke Kosmos

Aliran kognitif buku ini adalah spiral ekspansi — bukan daftar topik, melainkan satu gerakan tunggal dari luka salah-baca menuju welas asih kosmis.

01

Luka & Kamus yang Salah

Bab 0–3

Identitas administratif "Buddhist KTP." Masalahnya semantis — āgama telah menyempit. Negara memaksa label "Tuhan" pada tradisi yang non-teistik.

02

Membangun Benteng Batin

Bab 4–17

Perlindungan, rasa hormat, etika, napas, bahasa, keseimbangan. Fondasi internal yang memungkinkan hidup sebagai minoritas tanpa kehilangan pusat.

03

Menghadapi Badai Pluralisme

Bab 18–22

Bhinneka Tunggal Ika bukan klise — melainkan tameng filosofis. Arus bawah yang berbahaya: erosi diri yang senyap.

04

Realitas Tubuh & Sosial

Bab 23–29

Makanan, rasa takut, tubuh, identitas hibrida. Terobosan: Viparyaya. Resolusi: Padmasambhava sebagai model menyerap perbedaan tanpa menghapus diri.

05

Yang Kosmis & Yang Mikroskopis

Bab 30–35

Ritme bulan dan matahari, lima lapisan diri. Angka dan simbol dikembalikan sebagai teknologi fungsional. Puncak meditatif: Dhyāna.

06

Kembali ke Welas Asih

Bab 36–38

Bhikṣā, Tonglen, Atīśa Dīpaṃkara. Silsilah welas asih dari Suvarṇadvīpa ke Tibet. Ditutup dengan doa — bukan kemenangan.

Sabbe sattā bhavantu sukhitattā.

Untuk Siapa

Bukan hanya untuk umat Buddhis.

Untuk Pembaca Serius

Halaman Lebih Dalam berisi arsitektur lengkap buku ini — termasuk semua 39 judul bab, analisis mendalam per fase, dan kaitannya dengan program riset psikologi Beyond Tolerance.

Lebih Dalam →